Nganjuk, PPMA — Di antara deretan sambutan para kiai sepuh pada Haul ke-24 Syeh KH Imam Muhadi dan Haflah Akhirusanah ke-60 Pondok Pesantren Manba’ul ’Adhim, Selasa malam (3/2/2025), suara alumni menemukan momentumnya. Kiai Muhammad Agus Salim, salah satu alumnus yang kini mengabdi di luar Jawa, maju ke mimbar dengan bahasa sederhana dan kisah yang dekat dengan pengalaman banyak santri.
“Saya ini alumni yang baru kemarin,” ujarnya, merendah di hadapan para senior. Kalimat itu disambut senyum jamaah. Namun, di balik kerendahan itu, ia menyampaikan pesan yang tajam: tentang hubungan murid dengan pesantren, dan tentang cara menjaga berkah ilmu.
Kiai Agus Salim mengawali dengan rasa terima kasih kepada pengasuh Pondok Pesantren Manba’ul ’Adhim, Kiai Ali Barqul Abid, yang menurutnya tak pernah putus mendoakan para santri dan alumni, dalam kondisi apa pun. “Bagaimanapun keadaan santri dan jamaah, beliau tetap welas asih,” katanya.
Di hadapan ratusan alumni yang datang dari berbagai daerah, ia lalu mengurai satu perumpamaan yang mudah diingat: alumni sebagai “gelas”. Menurutnya, ada tiga tipe alumni. Pertama, alumni yang muttasil, yang tetap terhubung lahir dan batin dengan pesantren. Kedua, alumni yang datang hanya ketika membutuhkan. Ketiga, alumni yang terputus sama sekali dari almamaternya.
“Yang kita harapkan adalah alumni yang muttasil,” ujarnya. Alumni yang tetap menyambung silaturahmi, hadir saat pesantren membutuhkan, dan tidak merasa selesai hanya karena telah lulus.
Perumpamaan itu berlanjut. Untuk menjadi alumni yang muttasil, kata Kiai Agus Salim, seseorang harus bersedia menjadi gelas yang kosong. Kosong dari rasa paling benar, kosong dari kesombongan, dan siap diisi kembali oleh nasihat guru. “Kalau gelas sudah kosong, harus mau diletakkan di bawah. Baru bisa diisi,” katanya, disambut anggukan para hadirin.
Pesan itu terasa personal. Ia mengakui, apa pun yang bisa dilakukan alumni untuk pesantren tidak akan sebanding dengan ilmu yang telah diterima selama mondok. Karena itu, keterlibatan alumni—tenaga, waktu, maupun doa—bukanlah beban, melainkan bentuk syukur.
Di bagian akhir, Kiai Agus Salim juga menyapa para wali santri. Ia meminta mereka mengikhlaskan anak-anak yang dititipkan di pesantren. Menurutnya, keikhlasan orang tua adalah pintu utama turunnya ilmu yang berkah.
Malam itu, sambutan alumni bukan sekadar pengisi acara. Ia menjadi cermin bagi banyak orang yang pernah nyantri: tentang pulang, tentang menjaga sambung rasa dengan guru, dan tentang kerendahan hati dalam menimba ilmu. Di tengah haul seorang pendiri pesantren, pesan sederhana itu terasa relevan—bahwa warisan terbesar pesantren bukan hanya lembaga, melainkan sikap hidup.
--- Bagbogo Tanjunganom Nganjuk
Posting Komentar untuk "Jadilah Gelas yang Kosong, Sambutan Kiai Agus Salim Wakli Alumni "