Jejak Doa dan Ingatan di Haul Syeh KH Imam Muhadi, Sambutan Kiai Ali Barqul Abid

Nganjuk, PPMA — Malam belum terlalu larut ketika ribuan jamaah memenuhi halaman Pondok Pesantren Manba’ul ’Adhim, Bagbogo, Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk, Selasa (3/2/2025). Di antara lantunan shalawat dan wajah-wajah yang datang dari berbagai daerah, satu nama terus disebut dalam doa: Syeh KH Imam Muhadi.

Haul ke-24 ulama pendiri pesantren itu dirangkai dengan Haflah Akhirusanah ke-60 Pondok Pesantren Manba’ul ’Adhim. Bagi para santri, alumni, dan warga tarekat, malam itu bukan sekadar peringatan waktu, melainkan perjumpaan kembali dengan jejak keteladanan seorang guru yang telah wafat, tetapi pengaruhnya tetap hidup.

Pengasuh Pondok Pesantren Manba’ul ’Adhim, Kiai Ali Barqul Abid, menyampaikan sambutan dengan nada tenang. Ia menyapa satu per satu para masyayikh, kiai sepuh, tokoh masyarakat, hingga alumni lintas generasi yang hadir. “Haul ini adalah pengingat bahwa yang diwariskan guru kepada murid bukan hanya ilmu, tetapi juga keikhlasan,” ujarnya.

Kiai Ali Barqul Abid yang juga Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah an-Nahdliyah mengajak jamaah menengok kembali perjalanan pesantren yang dirintis Syeh KH Imam Muhadi sejak 1960. Pada masa-masa awal, pesantren dikenal sebagai pesantren tarekat dan kasab. Para santri datang dengan kesederhanaan, sebagian bahkan menempuh perjalanan jauh dengan sepeda, menembus medan sulit demi mengikuti pengajian dan baiat tarekat.

“Semua itu dijalani dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Itulah yang membuat pesantren ini bertahan sampai sekarang,” kata Kiai Ali Barqul Abid.

Enam puluh tahun kemudian, wajah Pondok Pesantren Manba’ul ’Adhim memang berubah. Selain madrasah diniyah dan kajian kitab kuning, kini berdiri lembaga pendidikan formal seperti MTs Ulumuddin dan MA Plus Manba’ul ’Adhim. Namun, menurut Kiai Ali Barqul Abid, ruh pesantren tetap sama: mendidik santri agar ilmunya bermanfaat bagi masyarakat.

Pesan itu terasa kuat bagi para alumni yang malam itu kembali ke almamater. Sebagian telah menjadi kiai, guru, atau tokoh masyarakat di daerah masing-masing. Sebagian lain hadir sebagai jamaah tarekat, membawa anak-anak mereka, berharap keberkahan yang sama.

Kiai Ali Barqul Abid berpesan agar alumni tidak hanya bangga pernah mondok, tetapi juga menjadikan ilmu pesantren sebagai sumber keteduhan sosial. “Ilmu itu bukan untuk disimpan, tapi untuk menghadirkan kesejukan dan kedamaian di lingkungan,” tuturnya.

Dalam sambutan tersebut, ia juga menyinggung perkembangan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah an-Nahdliyah yang kini tersebar di berbagai wilayah, dari Jawa Timur hingga Sumatera. Bagi Kiai Ali Barqul Abid, perkembangan itu adalah amanah besar yang harus dijaga dengan akhlak dan tanggung jawab.

Malam haul itu ditutup dengan doa bersama. Di antara suara amin yang lirih, terselip harapan agar Pondok Pesantren Manba’ul ’Adhim terus menjadi ruang belajar, ruang zikir, dan ruang pengabdian—sebagaimana dicita-citakan Syeh KH Imam Muhadi puluhan tahun silam.

--- Bagbogo Tanjunganom Nganjuk 

Posting Komentar untuk "Jejak Doa dan Ingatan di Haul Syeh KH Imam Muhadi, Sambutan Kiai Ali Barqul Abid "