Nganjuk, PPMA — Malam haul ke-24 Syech KH Imam Muhadi dan Haflah Akhirusanah ke-60 Pondok Pesantren Manba’ul ’Adhim, Selasa (3/2/2025), bukan sekadar peringatan wafat seorang mursyid. Ia menjadi ruang perjumpaan nilai, sanad, dan jalan panjang para penempuh ilmu. Di antara lantunan shalawat dan zikir yang mengalun, KH Harun Ismail, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Iflah Selopuro Blitar, menyampaikan taujiah yang membawa jamaah menyelami makna ngaji, tarekat, dan perjalanan batin menuju Allah.
Dengan suara tenang namun penuh tekanan makna, KH Harun Ismail membuka taujiah dengan satu penegasan mendasar: bahwa ibadah paling unggul setelah iman dan takwa adalah ngaji. Bukan hanya belajar teks, tetapi proses panjang memahami, menghayati, dan mengamalkan.
“Ngaji sampai tarekat pun tetap ngaji,” ujarnya. “Tanpa ngaji, manusia tak sampai.”
Pernyataan itu menjadi fondasi seluruh taujiah. Dalam pandangannya, tarekat bukan jalan pintas menuju Tuhan, melainkan kelanjutan dari syariat. Ia harus berangkat dari ilmu, ditegakkan dengan disiplin, dan dijalani dengan tekun.
Tarekat sebagai Jalan, Bukan Gelar
KH Harun Ismail menjelaskan bahwa tarekat secara bahasa berarti jalan. Secara istilah, ia adalah jalan yang mengantarkan hamba menuju makrifat kepada Allah. Nama tarekat boleh berbeda—Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah—namun hakikatnya satu: mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Ia menekankan bahwa tarekat sejati tidak pernah meninggalkan syariat. Shalat tetap ditegakkan, Jumatan tetap dijaga, ngaji tetap menjadi nafas harian. Meniru laku para wali tanpa memahami maqamnya, menurutnya, justru berbahaya.
Dalam kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir, KH Harun Ismail menunjukkan perbedaan dunia syariat dan hakikat. Nabi Musa, sebagai rasul, terikat tanggung jawab umat. Nabi Khidir bergerak di wilayah hakikat. Keduanya benar, namun tidak bisa ditiru sembarangan.
“Jangan mudah meniru Nabi Khidir,” pesannya. “Kalau perahunya dibolongi, pastikan airnya tidak masuk.”
Metafora itu mengundang senyum sekaligus renungan. Jalan hakikat tidak boleh dijalani tanpa bimbingan mursyid dan pondasi ilmu.
Mencari Mutiara, Menjaga Perahu
Dalam taujiah itu, KH Harun Ismail kerap menggunakan perumpamaan sederhana namun tajam. Syariat ia ibaratkan perahu, tarekat sebagai lautan, dan hakikat sebagai mutiara di dasar samudra.
Untuk mendapatkan mutiara, seseorang harus menyelam. Namun, menyelam tanpa perahu hanya akan menenggelamkan diri. Karena itu, syariat tidak boleh ditinggalkan. Ia adalah kendaraan yang menjaga keselamatan penempuh jalan.
Perumpamaan lain datang dari kelapa. Untuk mendapatkan minyak, kelapa harus melalui banyak tahap: disumbat, diparut, diperas, dimasak. Proses itu berat, panjang, dan membutuhkan kesabaran. Begitu pula perjalanan spiritual.
“Tugas kita hanya memeras dan memasak,” katanya. “Soal kapan menjadi minyak, biar Allah yang menentukan.”
Di titik ini, jamaah diajak memahami bahwa tarekat bukan tentang hasil instan, melainkan kesetiaan menjalani proses.
Zikir yang Hidup di Hati
Dalam penjelasan tentang zikir, KH Harun Ismail menekankan kalimat lailaha illallah sebagai inti seluruh tarekat muktabarah. Zikir ini, menurutnya, harus memenuhi tiga unsur: keluar dari hati, dibaca dengan benar, dan disertai rasa pengagungan.
Zikir bukan sekadar bunyi lisan. Ada zikir lisan (menyebut) dan zikir qalbu (mengingat). Yang paling utama adalah zikir yang hidup di hati, yang membuat manusia senantiasa ingat kepada Allah, hingga kesusahan pun perlahan sirna.
“Jangan gemar susah,” pesannya, mengutip doa Rasulullah. Kesusahan yang berlarut hanya menjauhkan manusia dari ketenangan. Zikir yang benar justru melapangkan.
Ia juga menegaskan pentingnya adab dalam zikir—bersuci, menghadap kiblat, duduk dengan takzim—sebagai bentuk penghormatan kepada kalimat suci.
Sanad, Guru, dan Kesetiaan
Dalam bagian akhir taujiah, KH Harun Ismail menegaskan bahwa tarekat harus bersambung sanadnya, jelas mursyidnya, dan berada dalam koridor Ahlussunnah wal Jama’ah. Tarekat tanpa sanad, menurutnya, adalah kesesatan. Dan sanad tanpa adab hanya melahirkan kesombongan.
Ia menyebut bahwa di Indonesia terdapat 46 tarekat muktabarah, termasuk tarekat “ngaji Al-Qur’an dan Sunnah” yang dijalani dengan mulazamah (ketekunan). Dalam semua itu, kunci utamanya adalah ketaatan kepada guru.
“Manut guru,” pesannya singkat. Tidak cerewet mengklaim sudah sampai, tidak sibuk mengukur diri. Tugas murid hanyalah mengamalkan apa yang diajarkan.
Warisan Mbah Imam Muhadi
Taujiah KH Harun Ismail terasa menemukan rumahnya ketika dikaitkan dengan sosok Syech KH Imam Muhadi. Ia menyebut tarekat Mbah Imam sebagai tarekat ngaji dan zikir—jalan yang seimbang antara ilmu dan wirid, antara syariat dan hakikat.
Dalam haul itu, warisan Mbah Imam Muhadi tidak hadir sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai jalan hidup yang terus relevan: tekun ngaji, setia berzikir, rendah hati dalam berjalan.
Malam kian larut. Jamaah pulang membawa lebih dari sekadar catatan. Mereka membawa bekal perjalanan: bahwa menuju Allah bukan soal cepat, melainkan soal tidak putus.
--- Bagbogo Tanjunganom Nganjuk
Posting Komentar untuk "Menempuh Jalan yang Tidak Terputus, Tausiah KH Harun Ismail "