Membersihkan Jalan Pulang: Mengurai Chubbuddunya dalam Tauziah Kiai Ali Barqul Abid

Di Masjid Jami’ Muhammad Besari, Tegalsari—tanah yang sejak berabad lalu menjadi tempat para salik meniti jalan sunyi—malam itu jamaah Thariqah Qodiriyah wa Naqsyabandiyah berkumpul dalam suasana yang hening namun hidup. Baiatan akan dimulai, dan dari bibir Kiai Ali Barqul Abid mengalir pesan yang terasa menjadi cermin bagi siapa pun yang hadir.

Kiai Ali membuka dengan sabda Nabi yang dicatat dalam Ihya’ ‘Ulumuddin: barangsiapa datang kepada Allah dengan membawa kalimat la ilaha illa Allah secara murni, tanpa dicampuri dengan hal selain Allah, maka baginya surga. Namun sahabat Ali pernah bertanya, apakah yang dimaksud sesuatu yang bisa mencampuri dan menodai kemurnian kalimat itu? Nabi menjawab singkat: chubbuddunya—kecenderungan hati untuk tunduk pada dunia dan kesenangan yang cepat berlalu.

Kiai Ali menjelaskan bahwa chubbuddunya bukan terletak pada harta, pekerjaan, atau kedudukan. Bukan pula berarti seseorang harus meninggalkan dunia dan mengurung diri di sudut masjid. Chubbuddunya justru muncul ketika hati menjadi “gila dunia”: ketika pujian lebih diburu daripada keridaan Tuhan, ketika pengakuan manusia menjadi candu, ketika seseorang merasa lebih suci, lebih benar, lebih berhak daripada orang lain hanya karena ibadah yang tampak di luar. Dalam kondisi seperti itu, ibadah bisa mengelabui pelakunya sendiri. Secara lahir terlihat seperti urusan akhirat, namun di baliknya terselip ambisi duniawi yang tak terucap.

Sebaliknya, hati yang bersih menjadikan dunia sebagai titian. Pekerjaan menjadi ibadah, harta menjadi amanah, bahkan kegagalan menjadi pelajaran. “Kalau hati bersih,” ujar Kiai Ali, “urusan dunia justru jadi tumpangan menuju akhirat.” Kalimat itu melayang di ruang masjid, menyentuh mereka yang diam-diam sering terjebak oleh hiruk-pikuk batin sendiri.

Dalam suasana itu, Kiai Ali melantunkan doa para sufi: “Ilahi anta maqsudi wa ridhoka mathlubi.” Tuhan, Engkau yang kutuju, dan ridha-Mu yang kucari. Doa itu mengingatkan bahwa di tengah arus hidup yang riuh, manusia sesungguhnya hanya memiliki satu tujuan yang tak berubah: pulang kepada-Nya dengan hati yang tidak tercemari oleh cinta dunia yang berlebihan.

Untuk menjaga arah perjalanan rohani itulah, para salik dibimbing melalui dua bentuk dzikir. Ada dzikir jahr, yang dilafalkan dengan suara yang menggetarkan dada. Dzikir yang lantang itu bagaikan mengetuk pintu dari luar, menggugah hati yang mulai tertidur, memecah kabut kelalaian, dan menyadarkan manusia bahwa hidupnya tidak hanya bergerak di permukaan dunia. Lalu ada dzikir sirr, dzikir sunyi yang dilakukan dalam kedalaman hati. Dzikir ini tidak membutuhkan suara, tidak memanggil perhatian, dan tidak ingin diketahui siapa pun. Ia adalah percakapan rahasia antara hamba dan Tuhannya—di mana manusia menundukkan diri sepenuhnya, membiarkan cahaya bekerja dalam senyap.

Melalui dua jenis dzikir itu, kata Kiai Ali, seseorang belajar memasrahkan diri. “Pasrahkan semua. Biar Allah yang atur,” ujarnya. “Kalau kita ikut-ikut ngatur, malah gak karuan.” Kalimat itu disambut senyum kecil jamaah, seakan mengiyakan pengalaman masing-masing: betapa banyak kekacauan hidup yang justru lahir dari upaya manusia memaksa kehendaknya sendiri.

Untuk menegaskan makna keikhlasan itu, Kiai Ali mengisahkan teladan yang halus dari Sulton Auliya’, Syekh Abdul Qadir Jailani. Ketika masih kecil, Abdul Qadir berjalan bersama seorang temannya menuju seorang wali besar, Wali Ansor. Sepanjang perjalanan, temannya merencanakan pertanyaan-pertanyaan sulit yang akan diajukan, berharap bisa menunjukkan kecerdasannya. Namun Abdul Qadir kecil hanya diam. Ketika ditanya apa yang ingin ia tanyakan, ia menjawab lirih: ia hanya ingin ngalab barokah. Tidak ingin menguji, tidak ingin mengalahkan, tidak ingin terlihat lebih pandai—hanya ingin dekat dengan kebaikan.

Di sinilah letak inti pelajaran malam itu. Chubbuddunya harus disembuhkan, bukan dengan menolak dunia, tetapi dengan menata ulang tempatnya di dalam hati. Dunia hanya singgah, bukan tujuan. Dan kesucian hati tidak diukur dari panjangnya bacaan atau kerasnya suara dzikir, tetapi dari sejauh mana seseorang tidak membiarkan dunia menguasai batinnya.

Dalam gemuruh la ilaha illa Allah yang mengalun di malam itu, para salik di Tegalsari seakan diajak untuk pulang. Bukan pulang ke rumah, tetapi pulang kepada keadaan hati yang jernih—hati yang tidak sibuk mengatur takdirnya sendiri, hati yang tidak dirusak oleh ambisi, hati yang menyerahkan diri pada Allah dengan pasrah yang matang. Sebab pada akhirnya, jalan pulang kepada-Nya bukan ditentukan oleh banyaknya pengetahuan, melainkan oleh sejauh mana seseorang menjaga kemurnian kalimat yang ia bawa pulang.

---Tegalsari

Posting Komentar untuk "Membersihkan Jalan Pulang: Mengurai Chubbuddunya dalam Tauziah Kiai Ali Barqul Abid"