Malam itu, Masjid Al Anam Pintu di Sidorejo menjadi panggung keheningan yang sakral. Jamaah baru Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah duduk khidmat, menanti wejangan dari Kiai Ali Barqul Abid dalam acara baiatan. Di hadapan mereka, Kiai Ali tidak sekadar memperkenalkan amalan-amalan thoriqoh, tetapi membuka kembali lembar sejarah panjang yang diwariskan oleh sang sulthanul auliya’, Syekh Abdul Qadir al-Jailani—leluhur rohani yang jalan dzikirnya mereka ikuti malam itu.
Dalam perkenalan kepada para pejalan baru itu, Kiai Ali mengisahkan kembali cerita yang menjadi bahan renungan dalam kitab Al-Fawaid al-Mukhtarah karya Habib Ali Hasan Baharun. Kisah ini menjadi cermin yang memantulkan sifat paling dasar seorang salik: keikhlasan niat dan kebersihan hati. Saat sedang menuntut ilmu di masa muda, Syekh Abdul Qadir al-Jailani pernah melakukan perjalanan bersama dua sahabatnya, Ibnu Saqa’ dan Ibnu Abi ‘Asrun, untuk sowan kepada seorang wali besar yang dikenal memiliki maqam al-Ghauts. Sepanjang perjalanan, kedua sahabatnya sibuk merancang pertanyaan sulit. Dalam benak mereka, akan ada kepuasan tersendiri bila wali yang mereka kunjungi nanti tidak mampu menjawab. Perjalanan spiritual berubah menjadi ajang menguji, bahkan menaklukkan.
Namun Syekh Abdul Qadir muda diam sepanjang jalan. Ia tidak sibuk menyiapkan pertanyaan, tidak memikirkan adu kecerdasan, apalagi ingin membuktikan sesuatu. Ketika ditanya mengapa ia tidak ikut merancang ujian bagi sang wali, ia hanya menjawab lirih, “Aku hanya ingin ngalap berkah.” Kesederhanaan itu, kata Kiai Ali, bukan tanda ketidaktahuan, melainkan cermin kejernihan hati yang lebih dalam daripada kecerdasan.
Ketika rombongan tiba di kediaman wali al-Ghauts, sang wali langsung memahami maksud kedatangan mereka bahkan sebelum sepatah kata pun terucap. Ia memandangi Ibnu Saqa’, lalu berkata bahwa ia melihat “api kekufuran yang menyala dalam tulang rusuknya.” Kepada Ibnu Abi ‘Asrun, ia menubuatkan bahwa dunia akan berjatuhan menimpanya. Tetapi ketika pandangannya jatuh pada Abdul Qadir, sang wali tersenyum, menyampaikan bahwa anak muda itu datang dengan niat tulus, bersih, dan hanya ingin mengambil barokah.
Dari kesucian niat itulah, kelak Allah mengangkat derajat Abdul Qadir setinggi-tingginya. Ia diberi maqam yang tidak diberikan pada banyak wali lain. Ia menjadi Sulthonul Auliya’, raja para kekasih Allah. Dan semuanya berakar dari satu sikap sederhana: tawaduk, merendah di hadapan kebenaran, dan tidak merasa lebih dari siapa pun. Tiga sahabat yang melakukan perjalanan itu kemudian menjalani takdir yang bertolak belakang; akhlak menjadi pembeda yang paling menentukan.
Kiai Ali lalu menghubungkan pelajaran itu dengan pesan yang jauh lebih tua, yang tercatat dalam Ihya’ Ulumuddin. Nabi Muhammad pernah bersabda, “Barangsiapa datang kepada Allah dengan kalimat thayyibah, la ilaha illa Allah, tanpa mencampurinya dengan sesuatu yang lain, maka baginya surga.” Namun sahabat Ali bertanya, apakah yang dimaksud “mencampuri”? Apa yang bisa menodai kesucian kalimat tauhid?
Nabi menjawab, hal itu adalah chubbuddunyā, kecintaan yang berlebih-lebihan terhadap dunia. Kecintaan yang membuat seseorang memuja pujian, memburu pengakuan, dan merasa lebih mulia daripada orang lain. Dunia memang penting sebagai tempat berpijak, tetapi kecenderungan hati yang terikat padanya membuat manusia kehilangan keluhuran makna dari kalimat yang ia ucapkan. Bila hati kotor, amal yang tampak sebagai ibadah pun sebenarnya hanya pencarian dunia dalam bentuk lain.
Karena itu, menurut Kiai Ali, thoriqoh bukanlah jalan eksklusif yang hanya berisi amalan ritual. Ia adalah tempat membersihkan hati, merawat niat, dan menyucikan tujuan. Para salik diajak melatih batin agar doa “Ilahi anta maqsudi wa ridhoka matlubi” tidak hanya menjadi rangkaian kata, tetapi menjadi orientasi hidup: bahwa yang dicari bukan tepuk tangan manusia, bukan nama baik, bukan rasa paling benar, tetapi keridhaan Allah semata. Jalan ini harus ditempuh sedini mungkin, dan dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, sebab ia adalah jalan pulang.
Di Masjid Al Anam Pintu malam itu, tauziah Kiai Ali berakhir tanpa suara tinggi, tanpa retorika megah. Namun justru karena itu ia menembus jauh. Ia mengingatkan jamaah baru bahwa perjalanan thoriqoh bukan untuk menjadikan diri lebih hebat, tetapi agar tidak merasa lebih dari siapa pun. Bukan untuk tampil lebih suci, tetapi agar hati tidak dirusak ambisi. Bukan untuk memperbanyak gelar rohani, tetapi untuk menjaga agar kalimat tauhid tetap bersih dari nodanya dunia.
Di tengah hiruk-pikuk zaman ketika manusia berlomba menampilkan citra spiritual di depan publik, pesan Kiai Ali terasa seperti seutas benang halus yang menuntun kembali ke kejujuran batin. Thoriqoh mengajak manusia kembali ingat kepada Allah, kembali melihat dunia dengan mata yang jernih, dan kembali pulang kepada-Nya dengan hati yang bersih. Sebab pada akhirnya, yang menyelamatkan bukan banyaknya kata yang diucapkan, tetapi keluhuran adab dan ketulusan hati yang dijaga sampai akhir hayat.
---- Pintu Sidorejo
Posting Komentar untuk "Chubbuddunyā, Ketika Dunia Menodai Kalimat Tayyibah"