Suasana Masjid Al Anam di Dukuh Pintu, Desa Sidorejo, Kecamatan Sukorejo, Ponorogo, terasa teduh malam itu. Lampu-lampu bohlam kuning menggantung di langit-langit kayu, memancarkan cahaya hangat yang menimpa wajah-wajah jamaah. Di deretan saf depan, para ikhwan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah an-Nahdliyah duduk bersila, menundukkan kepala, dan melantunkan dzikir pelan namun mantap.
Di hadapan mereka, Kiai Ali Barqul Abid—mursyid yang dikenal lembut namun tegas—memberikan taujiah sebelum prosesi baiatan dimulai. Pesan yang disampaikannya malam itu, meski sederhana, sarat makna bagi siapa saja yang menapaki jalan spiritual.
“Godaan orang yang istiqomah dalam bertariqah itu di antaranya iming-iming karomah—bisa melakukan hal-hal yang orang umum tidak bisa. Itu salah satu hijab yang menghalang-halangi. Bahkan, kalau kita tergoda, itu bisa membuat kita belok,” ujarnya, dengan nada suara yang tegas namun penuh kasih.
Kiai Ali menjelaskan, perjalanan dzikir bukanlah ajang mencari kelebihan atau kesaktian, melainkan menempuh jalan kembali kepada Allah. Ia mengutip sebuah niat agung yang menjadi pegangan para salik: “Ilahi anta maqsudi wa ridhoka matlubi—Ya Allah, Engkaulah tujuanku, dan ridha-Mu yang aku cari.”
Dalam tradisi tasawuf, karomah—yakni kejadian luar biasa yang dianugerahkan Allah kepada wali-Nya—memang diakui. Namun, menurut Kiai Ali, menjadikannya tujuan justru membelokkan niat. “Ibadah itu persembahan. Bisa sampai tempat baiatan saja sudah anugerah, sudah ganjaran. Jangan berharap lebih, seakan tidak percaya pada janji dan ketetapan Allah,” katanya.
Ia menegaskan, semua keberhasilan, kenikmatan, dan kedudukan dunia hanyalah bonus, bukan tujuan. Tujuan sejati adalah mengenal Allah dan meraih ridha-Nya—sebagaimana doa yang ia lantunkan: “Anta maqsudi wa ridhoka matlubi, atini mahabbataka wa ma’rifataka—Engkaulah tujuanku, dan ridha-Mu yang kucari, berikanlah aku cinta-Mu dan pengenalan kepada-Mu.”
Pesan Kiai Ali sejalan dengan ajaran Al-Qur’an: “Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama…” (QS. Al-Bayyinah: 5). Nabi Muhammad SAW juga bersabda, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya.” (HR. Bukhari-Muslim).
Malam itu, setelah tausiah, prosesi baiatan dimulai. Jamaah mengucap janji setia untuk menjaga dzikir dan adab thariqah, dipandu langsung oleh Kiai Ali. Di Masjid Al Anam, baiatan ini rutin digelar setiap malam Selasa Legi selepas Isya.
Khususiyah dan Tsamratul Fikriyah
Setelah baiatan, malam itu dilanjutkan dengan khususiyah, amalan yang diambil dari kitab Tsamratul Fikriyah. Fadilahnya, menurut Kiai Ali, adalah memperoleh pertolongan dari para guru yang dekat kepada Allah, disatukan dengan guru-guru shalih di dunia dan akhirat, serta menguatkan istikamah dalam ibadah.
Amalan ini juga dimaksudkan untuk menjauhkan murid dari hal-hal yang dicemaskan, mengangkat derajat rohani, dan meraih husnul khatimah—penutup kehidupan terbaik, bukan hanya dalam arti kematian yang baik, tetapi penutupan yang indah pada setiap episode hidup.
Sebelum jamaah bubar, Kiai Ali kembali menutup dengan nasihat yang ia ulang tiga kali—seakan ingin menancapkannya di hati para salik:
“Perbaiki niat… perbaiki niat… dan selalu perbaiki niat. Jangan tergoda iming-iming karomah atau kelebihan-kelebihan.”
Bagi para pejalan ruhani, pesan itu adalah pengingat abadi: bahwa tujuan perjalanan ini bukanlah mendapatkan sesuatu, tetapi menjadi seseorang yang dekat dengan Allah.
------Pintu Sidorejo Sukorejo)
Posting Komentar untuk "Menempuh Jalan Lurus di Tengah Godaan Karomah, Pesan Kiai Ali di Masjid Al Anam Pintu Sidorejo "