Malam Senin Kliwon, selepas isya, Masjid Kiai Ageng Mohammad Besari di Tegalsari, Jetis, Ponorogo, tampak dipenuhi jamaah. Lampu-lampu temaram berpadu dengan semilir angin di bulan Agustus, menciptakan suasana hening namun sarat khidmat. Di sanalah Kiai Ali Barqul Abid, pengasuh Pondok Pesantren Manba’ul Adhim Bagbogo, Nganjuk, sekaligus Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah an-Nahdliyah, menyampaikan taujiah pada majelis baiat thariqah.
Suara beliau tenang, mengalun seperti mengurai simpul demi simpul dalam hati jamaah. Kiai Ali memulai dengan mengutip pesan Al-Qur’an, di antaranya dari Surah Az-Zumar ayat 8:
Dan apabila manusia ditimpa suatu bahaya, dia berdoa kepada Tuhannya dalam keadaan kembali kepada-Nya. Kemudian apabila Dia memberinya nikmat dari-Nya, dia lupa (akan bahaya) yang pernah dia berdoa kepada-Nya sebelum itu, dan dia mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah, ‘Bersenang-senanglah kamu dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.’” (QS. Az-Zumar: 8)
Kiai Ali menjelaskan, ayat ini menggambarkan manusia yang ketika berada dalam kesempitan hidup memohon kepada Allah dengan penuh kepasrahan, merasa tak berdaya. Namun, tatkala Allah mengubah keadaan—mengangkat musibah, melapangkan rezeki—sebagian justru menganggap keberhasilan itu semata hasil kerja kerasnya sendiri. “Inilah yang sering menjadi hijab,” ujar beliau. Hijab yang menutup kesadaran bahwa semua berasal dari Allah.
Beliau lalu mengingatkan Surah Al-Isra’ ayat 72:
Dan barang siapa di dunia ini buta (hatinya), niscaya di akhirat (nanti) ia akan buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS. Al-Isra’: 72)“Buta yang dimaksud bukan pada mata, tapi pada hati,” kata Kiai Ali. “Tidak mampu melihat tanda-tanda kebesaran Allah, tidak menyadari kehadiran-Nya dalam hidup.”
Mengutip Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, Kiai Ali menegaskan bahwa panasnya neraka sejatinya adalah karena jauhnya seseorang dari Allah, sedangkan kesejukan surga berasal dari kedekatan dengan orang-orang yang dekat kepada-Nya.
Pesan beliau mengalir pada inti ajaran thariqah: tawaduk, istiqamah, dan bersihnya niat. “Orang yang mengucap ‘Tuhanku Allah’, baik melalui lisan maupun dalam dzikirnya, sejatinya sudah melangkah di jalan wirid la ilaha illallah. Tapi ingat, ada ibadah yang dilandasi kepentingan pribadi—memohon rezeki, kemudahan urusan, bahkan keselamatan dari neraka. Itu boleh saja. Namun ibadah yang tertinggi adalah Ilahi anta maqsudi—Ya Allah, Engkaulah tujuan utamaku,” pesan beliau.
Menurut Kiai Ali, bila tujuan ibadah dipenuhi kepentingan duniawi semata, seakan-akan ada keraguan pada janji Allah. Maka, perbaikan niat menjadi kewajiban yang terus menerus. “Istiqamah bukan hanya pada dzikir, tapi juga pada niat dan kebersihan hati,” tuturnya.
Malam semakin larut, namun jamaah tetap duduk rapi menyimak. Dalam suasana yang teduh itu, taujiah Kiai Ali terasa seperti sebuah cermin, mengajak setiap orang menengok ke dalam dirinya: apakah kita telah benar-benar menjadikan Allah sebagai tujuan utama?
Di luar masjid, dunia bergerak dengan kecepatan tinggi. Media sosial, tuntutan pekerjaan, persaingan ekonomi—semuanya menggoda manusia untuk mengejar pengakuan dan pencapaian pribadi. Dalam hiruk pikuk itu, pesan Kiai Ali seperti penanda jalan: bahwa ketenangan sejati tidak lahir dari keberhasilan yang diukur materi, melainkan dari keyakinan teguh bahwa tujuan hidup adalah mencari ridha Allah. Sebuah istiqamah yang bukan hanya di lisan, tapi juga di hati yang bersih.
--- Tegalsari Ponorogo
Posting Komentar untuk "Mencari Ridha Allah, Menempuh Jalan Istiqamah, Baiatan TQN-A di Masjid Tegalsari Ponorogo "