Kiai Ali: Menghapus “Aku”, Menyatu dengan Kehendak-Nya

Suasana Masjid At Taqwa, Ngunut, Babadan, malam itu terasa khidmat. Jamaah duduk, membentuk shof rapi, sementara lantunan istighfar terdengar lirih mengisi udara. Berhadapan dengan jamaah, Kiai Ali Barqul Abid duduk bersahaja. Suaranya tenang, namun tegas, menembus dinding-dinding batin para santri yang hadir mengikuti bai’at Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.

“Thoriqoh ini mengajarkan kita untuk menghilangkan ke-akuan,” ucapnya, membuka tausiyah. “Semua gerak, semua langkah, digerakkan oleh Gusti Allah. Tidak ada daya, tidak ada upaya, selain kehendak-Nya.”

Kiai Ali mengajak para jamaah menundukkan ego, mengikis kesombongan yang sering tanpa sadar bersemayam dalam diri. Ia menuturkan kisah klasik: Iblis yang begitu lama hidup bersama malaikat, bahkan pernah menghuni surga, namun gagal menghapus keangkuhan. “Iblis itu tahu makrifat,” ujarnya, “tapi keangkuhannya membuatnya merasa lebih mulia daripada Adam.”

Cerita itu tidak berhenti di sana. Kiai Ali mengisahkan Musa bin Dhofir, seorang manusia yang pada masa lampau pernah begitu dekat dengan Nabi Musa. Ia bahkan diasuh oleh Malaikat Jibril. Namun kedekatan itu tak menyelamatkannya dari sifat congkak, dan kelak, kata para ulama, Musa bin Dhofir inilah yang dikenal sebagai Dajjal. “Jangan pernah merasa lebih baik dari yang lain,” kata Kiai Ali sambil menatap barisan santri. “Sifat itu akan terus bertanduk, mengeras, sampai kita bisa benar-benar melepaskannya.”

Di tengah gema kalimat tauhid, Kiai Ali mengingatkan inti dari mengikuti thoriqoh: memusatkan seluruh tujuan hidup hanya kepada Allah. Dzikir bukan sekadar rangkaian kata yang diulang, tetapi jalan menuju pengenalan diri sebagai hamba. “Doa kita jelas,” katanya, mengutip doa yang menjadi pegangan para salik, ‘Allahumma anta maqsudi, wa ridloka matlubi, aktini ma’rifataka’ — Ya Allah, Engkau tujuan hidupku, ridha-Mu yang kucari, anugerahkanlah ma’rifat-Mu kepadaku.”

Ia mengingatkan para jamaah agar tidak berbelok niat. Tujuan dzikir bukanlah surga, bukan pula ketakutan akan neraka. “Kalau niat sudah bercabang, hati akan terhijab,” ucapnya. “Thoriqoh ini mengajarkan kita membersihkan semua hijab itu, agar hanya Allah yang tertinggal.”

Malam itu, setelah bai’at, prosesi dzikir pun dimulai. Bagi jamaah yang menempuh jalur Qodiriyah, dzikir dilakukan dengan jahr—dilantunkan dengan suara yang terdengar, menggetarkan langit-langit masjid. Kalimat La ilaha illallah diulang hingga 165 kali. Gerakan kepala mengikuti irama dzikir: menunduk saat mengucapkan laa, menggeleng ke kanan ketika melafazkan ilaha, dan mengarah ke qalbu di sisi kiri ketika melanjutkan illallah. Setiap getaran kata mengalir, menumbuhkan rasa kehadiran Ilahi yang kian nyata.

Dzikir Naqsyabandiyah berbeda. Ia dilakukan setelah dzikir Qodiriyah, dalam keheningan. Lafaz Allah diucapkan seribu kali, tanpa suara, hanya berdengung dalam ruang batin. “Sirri,” kata Kiai Ali. “Hanya Allah dan hatimu yang tahu.” Dalam keheningan itu, jamaah diajak untuk sepenuhnya hadir, menembus lapisan-lapisan kesadaran, hingga menyadari bahwa semua hanyalah gerak Allah di dalam diri.

Prosesi itu bukan semata ritual. Setiap lafaz, setiap gerakan, adalah cara untuk mendidik hati, menundukkan ego, dan menanamkan kesadaran bahwa manusia hanyalah hamba. Di sela dzikir, gema doa tawassul dan istighfar mengalun, menautkan ikatan batin dengan Rasulullah, para guru mursyid, dan seluruh silsilah thoriqoh yang berujung pada Allah.

“Dzikir ini bukan untuk kemuliaan dunia,” ucap Kiai Ali menjelang penutup. “Bukan untuk kehebatan. Bukan untuk keramat. Tapi untuk tunduk, untuk benar-benar menjadi hamba yang sadar.”

Bai’at malam itu berakhir dengan sunyi yang khusyuk. Santri-santri tetap terdiam beberapa saat, meresapi pesan yang begitu dalam. Bahwa perjalanan thoriqoh bukanlah soal seberapa fasih melantunkan zikir, melainkan seberapa ikhlas menghapus ego dan mengosongkan diri agar hanya Allah yang mengisi.

Di Masjid At Taqwa, malam itu, kesadaran itu terasa nyata: manusia hanyalah titik kecil dalam kehendak-Nya. Dan tugas utama para salik adalah berjalan terus, mengikis lapisan demi lapisan keangkuhan, sampai akhirnya menemukan keheningan yang sejati — keheningan yang hanya menyisakan Allah.


Posting Komentar untuk "Kiai Ali: Menghapus “Aku”, Menyatu dengan Kehendak-Nya"