Di malam Selasa Kliwon, Masjid Al Misbah di Banyuarum, Kauman, seolah bertransformasi menjadi ruang sunyi yang sarat rindu. Lantunan dzikir thoriqoh Qodriyah wa Naqsyabandiyah terdengar lirih, merambat ke langit malam, seiring langkah-langkah jamaah yang datang satu per satu usai Isya. Mereka duduk bersila, membentuk shaf, menghadap ke arah mimbar tempat Al Mursyid, Kiai Ali Barqul Abid, akan memberi wejangan. Di dalam masjid berukuran sederhana itu, suasana hening, hanya suara nafas dan detak waktu yang terdengar di antara lantunan tasbih.
Kiai Ali memulai tausiyahnya dengan nada tenang, tapi sarat penekanan makna. Ia menceritakan percakapan yang sering terjadi di antara para santri yang lama tidak bertemu. “Awakmu melu thoriqoh, wis iso opo? Wis tekan ngendi? Wis tembus arsyi?” tutur beliau, menirukan dialek khas Jawai yang akrab di telinga jamaah. Tawa kecil terdengar dari beberapa jamaah, mungkin karena mereka merasa pernah mendengar, bahkan mungkin pernah mengucapkan, pertanyaan yang sama.
Namun, di balik humor yang ringan, Kiai Ali mengajak jamaah merenung. Percakapan semacam itu, kata beliau, lumrah terjadi. Namun sering kali mengungkapkan bahwa sebagian orang menjalani thoriqoh bukan karena Allah semata, melainkan karena keinginan akan sesuatu: kelebihan, karomah, atau bahkan pengakuan dari sesama. “Padahal,” ujarnya pelan, “tujuan bertorikhoh itu hanya satu: mengabdi kepada Allah. Puncak kerinduan seorang hamba kepada Penciptanya. Allahumma anta magshudi wa ridhoka wa ma’rifatuka. Engkaulah tujuanku, ridho-Mu dan ma’rifat-Mu yang kucari.”
Kata-kata itu menggantung di udara, merasuk ke dalam ruang batin yang paling sunyi. Di barisan belakang, seorang santri muda tampak menunduk. Tangannya meremas butiran tasbih, seolah sedang mengulang-ulang kalimat yang baru saja ia dengar, mencoba memahami kedalaman makna dari pengabdian tanpa pamrih.
Kiai Ali kemudian melanjutkan, bahwa segala kelebihan, kemudahan, dan terkabulnya doa hanyalah bonus. Ia mengibaratkan bonus itu sebagai bunga yang mekar di tepi jalan, indah untuk dipandang tetapi bukan tujuan perjalanan. Bahkan kemampuan untuk sekadar bisa beribadah, untuk mampu hadir dalam dzikir malam seperti ini, adalah anugerah yang harus disyukuri. “Sering kita berharap ibadah kita dicatat sebagai amal kebaikan,” kata Kiai Ali. “Itu tidak salah. Tapi ibadah seperti itu masih berbau maksud, masih ada harapan akan surga atau takut neraka. Padahal puncak ibadah itu kerinduan… kerinduan untuk mendapat ridho Gusti Allah.”
Malam semakin larut. Lampu-lampu masjid temaram, menciptakan siluet wajah-wajah jamaah yang tenggelam dalam perenungan. Tidak ada sorak sorai, tidak ada tepukan tangan, hanya keheningan yang terasa semakin dalam. Seorang jamaah paruh baya, usai dzikir, mengaku bahwa setiap kali mendengar tausiyah seperti itu, ia merasa sedang disadarkan untuk memurnikan niat. “Kadang kita lupa,” ujarnya lirih, “bahwa dzikir ini bukan untuk orang lain, bukan untuk dilihat, tapi untuk ridho-Nya.”
Di Masjid Al Misbah, malam Selasa Kliwon bukan hanya sebuah rutinitas, tetapi perjalanan spiritual yang mengajarkan ketulusan. Thoriqoh Qodriyah wa Naqsyabandiyah yang dijalankan Kiai Ali tidak mengumbar janji keajaiban, tidak pula menjual jalan pintas menuju kesempurnaan rohani. Sebaliknya, ia menuntun jamaah untuk melatih hati: mengontrol pikiran, menjaga perbuatan, dan mengikis nafsu yang sering kali mengalihkan tujuan.
Di luar masjid, angin malam berhembus pelan, menyapu halaman yang masih ramai oleh jamaah yang enggan pulang. Sebagian berbincang ringan, sebagian lainnya memilih diam, tenggelam dalam rasa syukur. Bagi mereka, perjalanan malam ini bukan soal seberapa jauh mereka telah menapak jalan thoriqoh, melainkan seberapa dalam hati mereka mampu tunduk pada keagungan Sang Khalik.
Di ruang itu, di bawah langit Banyuarum yang hening, semua kesan, doa, dan kerinduan bermuara pada satu titik: ridho Allah semata. Tidak ada lagi pertanyaan “wis tembus arsyi”, tidak ada lagi obsesi akan kelebihan. Yang tersisa hanyalah kerinduan yang murni, kerinduan yang mengikat setiap dzikir pada Sang Pencipta.
Posting Komentar untuk "Masjid Al Misbah, Dzikir yang Menyapa Kerinduan — Bukan Keajaiban"