Ada yang lebih sulit dilunakkan daripada batu, yakni hati manusia yang telanjur mengeras. Ia mungkin masih bisa mendengar nasihat, tetapi tak selalu bersedia menerimanya. Telinga menangkap kata-kata, tetapi hati tetap bertahan pada keangkuhan, amarah, dan keinginan untuk selalu merasa benar.
Di hadapan jamaah yang mengikuti Baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah Sanad KH Imam Muhadi Bagbogo di Masjid Al Mansyur, Sekayu, Pinggirsari, Ponorogo, Kiai Ali Barqul Abid mengajak para jamaah baru memahami salah satu jalan untuk merawat hati: dzikir.
Mengapa dalam Thoriqoh Qodiriyah ada dzikir yang dilafalkan dengan suara keras, sementara dalam Naqsyabandiyah dikenal dzikir yang dilantunkan secara lirih, bahkan di dalam hati, tanpa suara dan tanpa gerak bibir yang terlihat?
Bukankah Allah Maha Mendengar? Mengapa nama-Nya harus disebut dengan suara keras?
Pertanyaan itu menjadi pintu masuk Kiai Ali untuk menjelaskan persoalan yang sesungguhnya bukan terletak pada pendengaran Tuhan, melainkan pada keadaan manusia sendiri.
Bukan Allah yang tuli, melainkan hati manusia yang sering kali sulit mendengar.
Hati yang keras, menurut penjelasan Kiai Ali, perlu dikerasi agar kembali lunak. Ia menggunakan ungkapan yang lugas, bahwa hati itu perlu ditutuki—dipukuli—agar tidak terus-menerus membatu. Tentu bukan tubuh yang dipukul, melainkan hati yang digugah melalui dzikir, diulang-ulang hingga kesadaran kepada Allah tumbuh dan perlahan-lahan mengubah perangai.
Di situlah dzikir dengan suara keras menemukan maknanya. Suara bukan untuk membuat Allah mendengar, melainkan untuk menggugah manusia yang sering kali tenggelam dalam kelalaian. Nama Allah dilafalkan berulang-ulang agar kesadaran yang tertutup oleh kesibukan dunia kembali terbuka.
Sebab, manusia tidak selalu kekurangan pengetahuan tentang kebaikan. Sering kali ia tahu apa yang benar, tetapi hatinya belum cukup lembut untuk menerima kebenaran itu. Ia mengerti bahwa marah harus dikendalikan, tetapi tetap mudah tersulut. Ia memahami bahwa memaafkan adalah kebajikan, tetapi masih menyimpan dendam. Ia mengetahui bahwa kesombongan harus dijauhi, tetapi diam-diam merasa dirinya lebih baik daripada orang lain.
Persoalannya bukan semata-mata apa yang diketahui oleh pikiran, melainkan apa yang telah tumbuh di dalam hati.
Al-Qur'an mengingatkan keadaan hati yang mengeras dalam Surah Al-Baqarah ayat 74. Allah berfirman bahwa setelah itu hati manusia menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Batu-batu itu, dalam ayat tersebut, digambarkan ada yang memancarkan sungai, ada yang terbelah lalu mengeluarkan air, dan ada pula yang jatuh karena takut kepada Allah.
Perumpamaan itu menyimpan teguran yang dalam. Batu yang keras saja masih dapat memancarkan air, sedangkan hati manusia bisa menjadi begitu keras hingga nasihat dan peringatan tak lagi menggerakkannya.
Karena itu, perjalanan dzikir bukan sekadar membiasakan lidah menyebut nama Allah. Yang lebih penting adalah bagaimana dzikir itu mengubah keadaan batin. Suara yang terdengar perlu menuntun kesadaran, sementara kesadaran yang tumbuh perlu menjelma dalam sikap hidup.
Dari sini, jamaah diajak memahami hubungan antara dzikir yang dilafalkan dengan suara keras dan dzikir yang dihadirkan secara sirr, tersembunyi di dalam hati. Keduanya bukan untuk dipertentangkan, melainkan menjadi bagian dari jalan spiritual yang mengarahkan manusia agar senantiasa mengingat Allah.
Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah sendiri merupakan perpaduan dua tradisi spiritual yang dinisbatkan kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Syekh Bahauddin Naqsyaband. Perpaduan tersebut dirintis oleh Syekh Ahmad Khatib Sambas, ulama asal Nusantara yang mengajarkan kedua tradisi dzikir itu dalam satu jalan pembinaan rohani.
Dalam penjelasan Kiai Ali kepada jamaah baru, ajaran Thoriqoh ini diterima melalui mata rantai guru yang bersambung hingga Nabi Muhammad SAW, melalui Malaikat Jibril, dan pada akhirnya bersumber dari Allah SWT. Sanad itu diteruskan melalui para guru, hingga sampai kepada KH Imam Muhadi Bagbogo dan para penerusnya dalam silsilah kemursyidan.
Bagi para pengamal Thoriqoh, sanad bukan sekadar daftar nama yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia merupakan penanda kesinambungan ajaran, bimbingan, dan tanggung jawab dalam menempuh perjalanan rohani.
Sebab, membersihkan hati bukan pekerjaan sekali jadi. Manusia membutuhkan kesungguhan, istiqamah, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri. Dalam perjalanan itu, guru membimbing murid agar dzikir tidak berhenti sebagai rutinitas lisan, tetapi menjadi jalan untuk mengenali penyakit batin dan mengubah perilaku.
Hakikat Thoriqoh, dalam penjelasan tersebut, adalah membersihkan hati dari sifat-sifat tercela, kemudian menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji. Kesombongan dilawan dengan kerendahan hati. Kebencian dilunakkan dengan kasih sayang. Keserakahan dikendalikan dengan kesederhanaan. Keinginan untuk selalu menang sendiri digantikan oleh kesediaan mendengar dan memahami orang lain.
Perubahan semacam itu tidak selalu tampak dalam sekejap. Ia tumbuh melalui latihan yang berulang, termasuk ketika seseorang tetap berdzikir di tengah kejenuhan, berusaha menahan amarah ketika tersinggung, atau memilih meminta maaf ketika egonya ingin bertahan.
Di sinilah dzikir menemukan ukuran yang lebih mendalam daripada sekadar keras atau lirihnya suara. Dzikir yang terdengar semestinya mengetuk hati, sedangkan dzikir yang tersembunyi semestinya menjaga hati agar tidak kembali jauh dari Allah.
Kiai Ali juga mengingatkan arah perjalanan itu melalui ungkapan yang menjadi pegangan para pengamal Thoriqoh: Ilahi anta maqshudi wa ridhaka mathlubi—Tuhanku, Engkaulah yang kutuju dan keridaan-Mu yang kucari.
Kalimat itu menegaskan bahwa tujuan perjalanan rohani bukanlah kebanggaan karena telah menjalani amalan tertentu, bukan pula keinginan untuk dipandang lebih saleh daripada orang lain. Yang dituju adalah Allah, sedangkan yang dicari adalah keridaan-Nya, dengan bimbingan para guru dan kesungguhan menjalankan ajaran.
Pada akhirnya, hati yang keras tidak cukup hanya disalahkan. Ia perlu dirawat, digugah, dan dilatih agar kembali peka. Dzikir menjadi salah satu jalan untuk mengerjakan pekerjaan batin itu, berulang kali, sepanjang kehidupan.
Sebab, suara dzikir yang paling bermakna bukan semata-mata suara yang menggema di dalam masjid. Maknanya justru terasa ketika seseorang keluar dari masjid dengan hati yang lebih lapang, lebih mudah menerima nasihat, tidak lekas menghakimi, dan lebih mampu mengendalikan dirinya.
Jika hati yang keras dapat dilembutkan, manusia tidak hanya menjadi lebih dekat kepada Allah dalam dzikirnya. Ia juga menjadi lebih baik dalam memperlakukan sesama.
***
Posting Komentar untuk "Melembutkan Hati yang Keras dengan Dzikir"