Zona Nyaman Santri dan Panggilan Pulang


Di sebuah kedai STMJ, seusai baiatan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah bersama Kiai Ali Barqul Abid, percakapan mengalir tanpa rencana. Tidak ada forum resmi, tidak pula suasana yang dibuat khidmat. Namun justru dalam kesederhanaan itulah, terselip sebuah pengingat yang tenang: tentang godaan kenyamanan dan tentang keharusan untuk melangkah.

Kedekatan dengan guru, bagi seorang santri, kerap menghadirkan rasa yang sukar digantikan. Ia bukan sekadar relasi belajar, melainkan ruang batin yang memberi keteduhan. Di dalamnya, waktu berjalan lebih teratur, arah hidup terasa lebih jelas, dan kegelisahan seolah menemukan penawarnya.

Tidak mengherankan bila sebagian santri memilih bertahan. Mereka menunda kepulangan, atau bahkan tidak lagi memikirkannya sebagai kebutuhan. Terlebih bagi yang mengabdi—yang sehari-harinya berada di sekitar kiai—kedekatan itu menjadi pengalaman yang utuh: melihat, mendengar, sekaligus merasakan langsung teladan yang hidup.

Pesantren, dalam situasi semacam itu, tidak lagi hanya menjadi tempat menimba ilmu. Ia berubah menjadi ruang tinggal yang lengkap—bahkan, bagi sebagian orang, lebih menghadirkan rasa “rumah” daripada kampung halaman sendiri.

Sejarah panjang pesantren di Jawa memperlihatkan bahwa gejala ini bukan hal baru. Sejak masa Wali Songo hingga pesantren-pesantren tua, selalu ada mereka yang memilih menetap lebih lama, larut dalam lingkungan yang memberi rasa cukup.

Namun Kiai Ali Barqul Abid memberi garis batas yang halus, tetapi tegas. Kenyamanan, menurutnya, bukan tujuan akhir. Ia penting sebagai ruang tumbuh, tetapi tidak untuk dihuni selamanya. Santri diibaratkan seperti bibit di persemaian—ia dirawat agar kuat, tetapi pada waktunya harus dipindahkan. Terlalu lama berada di tempat yang sama justru menghambat pertumbuhan itu sendiri.

Analogi lain yang ia gunakan lebih sederhana: anak ayam yang terus berada dalam kurungan. Ia aman, tetapi tidak pernah benar-benar mengenal dunia di luar.

Di titik ini, pulang memperoleh makna yang berbeda. Ia bukan sekadar kembali ke tempat asal, melainkan bagian dari proses yang utuh. Ada keluarga yang menunggu, ada masyarakat yang membutuhkan, dan ada ilmu yang menuntut untuk dihidupkan. Pengetahuan, dalam kerangka ini, tidak berhenti pada penguasaan, melainkan menemukan arti ketika hadir di tengah kehidupan.

Gambaran serupa kerap muncul dalam dunia kerja, dengan nuansa yang kadang lebih sunyi. Seorang karyawan senior—dekat dengan pimpinan, lama mengabdi, dan teruji loyalitasnya—tiba-tiba diminta membuka cabang di kota yang jauh. Tidak sedikit yang membaca keputusan itu sebagai isyarat menjauh: seolah-olah ia tak lagi dibutuhkan di pusat.

Padahal, justru pada titik itulah kepercayaan bekerja dengan cara yang tidak selalu nyaman. Ia tidak dipertahankan di lingkar inti, melainkan didorong keluar untuk menegakkan apa yang selama ini ia pelajari. Membawa kultur kerja, menjaga standar, dan berdiri tanpa bayang-bayang langsung sang pimpinan. Jarak, dalam pengertian ini, bukan pengurangan makna hubungan, melainkan perluasan tanggung jawab yang menuntut kedewasaan.

Kisah-kisah lama seakan mengafirmasi pandangan tersebut. Sultan Agung, dalam satu riwayat, lebih memilih tinggal di Makkah. Namun gurunya, Sunan Kalijaga, justru memintanya kembali ke Jawa. Pangeran Pandanaran pun diminta melepaskan kebangsawanan dan jabatannya, untuk kemudian menempuh jalan dakwah hingga dikenal sebagai Sunan Tembayat.

Di Ponorogo, jejak serupa tampak pada Pesantren Tegalsari di masa Kiai Ageng Besari. Sebagian santri memilih menetap hingga akhir hayat, dan jejaknya masih dapat dilihat hingga kini. Banyak makam bangsawan yang tersebar di pinggiran kota Ponorogo—mereka adalah para santri Tegalsari yang tidak kembali ke asalnya, melainkan memilih menetap, mengabdikan hidup, dan akhirnya dimakamkan di tanah yang dahulu menjadi tempat mereka belajar.

Namun sebagian lain diarahkan untuk kembali. Ronggowarsito adalah salah satunya—yang kelak dikenal sebagai pujangga besar keraton. Ada pula Bagus Harun, yang diperintahkan berjalan selama sebulan hingga menemukan medan pengabdiannya sendiri, dan kemudian dikenal sebagai Kiai Basyariyah.

Bagi Kiai Ali, kisah-kisah tersebut bukan sekadar cerita masa lalu. Ia menjadi cermin yang diam-diam relevan. Kenyamanan dapat menumbuhkan, tetapi juga dapat menahan. Seseorang bisa merasa telah berada di tempat terbaik, sementara yang sebenarnya terjadi adalah penghindaran terhadap tanggung jawab yang lebih luas.

Keinginan untuk selalu dekat dengan guru tidaklah keliru. Namun kedekatan itu justru menemukan kedalaman maknanya ketika seseorang mampu berjalan sendiri—membawa ajaran, menanamkan nilai, dan hadir sebagai kepanjangan tangan di ruang yang berbeda.

Sebuah pepatah lama yang dikutip Kiai Ali terdengar keras, tetapi menyimpan maksud yang dalam: sayang anak ditendang-tendang, benci anak ditimang-timang. Dalam pendidikan, kasih sayang tidak selalu hadir dalam bentuk kenyamanan. Ada kalanya ia justru hadir sebagai dorongan untuk meninggalkan zona aman.

Percakapan di kedai itu berakhir tanpa penutup yang dramatis. Namun yang tersisa adalah sebuah pertanyaan yang bekerja perlahan: apakah kedekatan dengan guru diukur dari jarak, atau dari kemampuan menjaga dan menghidupkan ajaran dalam kehidupan sehari-hari?

Barangkali, pulang bukanlah perpisahan. Ia adalah kelanjutan—cara lain untuk merawat kedekatan, dengan menanam apa yang telah diterima, di tanah yang berbeda.

***

Posting Komentar untuk "Zona Nyaman Santri dan Panggilan Pulang"