Istiqamah, Karamah, dan Ujian Hati di Jalan Sunyi, TQN-A Sekayu Pinggirsari Ponorogo

Sore itu cahaya matahari mulai melandai di langit Pinggirsari. Jamaah perlahan berdatangan ke Masjid Al Manshur, Sekayu. Mereka duduk bersila, sebagian dengan langkah pelan dan tubuh yang tak lagi muda. Di tempat inilah, dalam ritme waktu yang telah lama terjaga—Senen Legi ba’da Asar—baiatan Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah kembali digelar, bersambung sanadnya kepada KH Imam Muhadi Bagbogo.

Sebelum prosesi baiat dimulai, Kiai Ali Barqul Abid menyampaikan taujiah. Suaranya tenang, tidak menggurui, tetapi cukup untuk membuat jamaah menunduk dan mendengarkan. Tema yang diangkat tidak jauh dari keseharian para salik: tentang istiqamah, karamah, dan satu istilah yang jarang dibicarakan—istidraj.

Untuk menjelaskan, Kiai Ali tidak langsung memberi definisi. Ia memilih jalan cerita.

Kisah pertama tentang seseorang yang berangkat menempuh jalan Allah tanpa bekal apa pun. Tidak ada uang di sakunya. Namun ketika sampai pada saat membutuhkan, tiba-tiba ia mendapati rezeki hadir, bahkan lebih dari cukup. “Ini,” ujar Kiai Ali, “yang sering disebut orang sebagai karamah.” Sebuah kejadian luar biasa, datang tanpa direncanakan, seolah menjadi pertolongan langsung dari Allah kepada hamba-Nya.

Namun Kiai Ali melanjutkan dengan kisah kedua. Seorang salik berangkat dengan bekal cukup di tangannya. Ia telah menyiapkan segalanya dengan wajar. Tetapi ketika tiba saat membutuhkan, uang itu justru tidak ada. Hilang tanpa sebab yang jelas. Dalam keadaan seperti itu, orang tersebut tidak mengeluh, tidak panik, tidak mempertanyakan. Ia menerimanya sebagai kehendak Allah, bertawakal, dan tetap menjalankan amalan seperti biasa—tanpa berkurang, tanpa berubah.

“Inilah,” kata Kiai Ali, “yang lebih tinggi.”

Lalu kisah ketiga. Seseorang yang rajin beribadah—salat, dzikir, wirid—suatu hari menemukan uang lebih di balik sajadahnya. Ia bersyukur, tetapi kemudian hatinya mulai berharap agar kejadian itu terulang kembali. Ibadahnya menjadi semakin giat, tetapi bukan semata-mata karena Allah—melainkan karena menunggu “kejutan” serupa.

Di sinilah Kiai Ali memberi penegasan yang mengikat seluruh kisah itu: jangan menjadi pemburu hadiah, tetapi kejarlah Sang Pemberi hadiah. Kalimat ini sederhana, namun menjadi garis pembeda antara jalan yang lurus dan jalan yang bisa menipu secara halus. Ketika hati mulai mengejar “pemberian”, di situlah risiko kehilangan arah muncul.

Beliau kemudian menjelaskan, kondisi ketiga inilah yang harus diwaspadai. Apa yang tampak seperti karamah bisa saja berubah menjadi istidraj—kenikmatan yang justru menjauhkan, karena membuat hati bergantung pada selain Allah.

Kiai Ali tidak menafikan adanya karamah. Ia menempatkannya sebagaimana mestinya: sebagai sesuatu yang mungkin terjadi, tetapi bukan tujuan. Dalam Al-Qur’an, kisah Maryam yang mendapatkan rezeki tanpa diduga (QS Ali Imran: 37) menjadi salah satu rujukan. Namun para ulama sufi sejak dulu telah mengingatkan, ukuran kedekatan kepada Allah bukanlah kejadian luar biasa.

Di titik inilah beliau mengutip ungkapan yang telah lama hidup dalam tradisi tasawuf: al-istiqamah a’zhamu al-karamah—istiqamah adalah karamah yang paling agung. Sebuah pandangan yang sering dinisbatkan kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, yang dikenal tidak pernah menjadikan keajaiban sebagai tolok ukur kewalian.

“Yang paling bagus itu yang mana?” tanya Kiai Ali, seolah mewakili kegelisahan yang mungkin ada di hati jamaah.

Beliau kemudian menjawabnya sendiri: “Orang yang diuji, tapi tetap istiqamah. Tidak mengharap apa-apa, selain menunaikan kewajiban. Tetap berjalan seperti biasa—itulah istiqamah yang sebenarnya.”

Bagi seorang salik, istiqamah bukan sesuatu yang spektakuler. Ia hadir dalam pengulangan: dzikir yang sama, doa yang sama, langkah yang sama menuju masjid, dari waktu ke waktu. Tidak ada yang tampak luar biasa, tetapi justru di situlah letak kemurniannya.

Sebaliknya, keterpesonaan pada karamah—atau yang menyerupainya—bisa menjadi belokan halus. Hati yang semula menghadap Allah, perlahan bisa bergeser, mengharap pengalaman, menanti keajaiban, atau bahkan merasa memiliki kelebihan.


Di Masjid Al Manshur sore itu, pesan tersebut terasa membumi. Jamaah yang hadir bukanlah pencari sensasi spiritual. Mereka adalah penempuh jalan panjang, yang lebih memahami arti bertahan daripada sekadar mencapai.

Matahari hampir tenggelam ketika taujiah usai. Baiatan segera dimulai, mengikat kembali janji ruhani dalam sanad yang bersambung. Di antara lantunan dzikir yang pelan, satu pesan seolah menetap di ruang batin para jamaah:

bahwa di jalan menuju Allah, yang paling utama bukanlah apa yang didapat, melainkan bagaimana seseorang tetap berjalan—tanpa bergeser, tanpa menuntut, dan tanpa menjadikan selain-Nya sebagai tujuan.

***

Posting Komentar untuk "Istiqamah, Karamah, dan Ujian Hati di Jalan Sunyi, TQN-A Sekayu Pinggirsari Ponorogo "