Menata Hati di Tengah Godaan Istiqamah

Istiqamah, kata Kiai Ali Barqul Abid, bukan sekadar soal rajin beribadah, tetapi soal ke mana hati ini menoleh. Dalam tausiah pada Baiatan Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di Mushola Al Iman, Puyut, Plalangan, Jenangan, Ponorogo, ia mengingatkan bahwa banyak kegagalan istiqamah berawal dari satu hal yang tampak sepele: menoleh kepada makhluk, bukan karena Allah.

“Ketika ibadah terganggu karena sepi, karena tidak cocok dengan teman, karena orang lain tak sesuai harapan dan angan-angan kita, di situlah hati sedang tidak lillāh,” tutur Kiai Ali. Menurutnya, manusia sering merasa lelah dalam ibadah bukan karena beratnya amal, melainkan karena hati menggantungkan nilai amal itu pada respons manusia. Rasa lillahnya dikalahkan pandangan kepada makluk, pada suka ndak suka, benci dan senang pada makluk.

Ia lalu mengutip Imam al-Ghazali tentang kalimat lā ilāha illāllāh yang tidak boleh berhenti berdenyut dalam diri seorang hamba. Kalimat tauhid itu adalah benteng, pagar dari murka dan azab Allah—selama ia tidak diperalat untuk ambisi keduniawian. Tauhid menjadi kosong ketika lisan berdzikir, tetapi hati terus menuntut dunia.

Qanaah dan syukur, kata Kiai Ali, adalah tanda hidupnya tauhid. Bukan merasa kurang atas nikmat Allah, bukan pula mengukur hidup semata dari hasil duniawi. Ketika seseorang merasa amalnya tidak sebanding dengan hasil dunia yang ia peroleh lalu menyalahkan Allah, di situlah qanaah runtuh dan tauhid mulai retak.

Ironisnya, lanjut Kiai Ali, manusia sering sangat teliti dalam urusan dunia. Bila penghasilan kurang, ia mengusut, menghitung, dan mengalkulasi agar sempurna. Namun pada saat yang sama, urusan ibadah justru sering kedodoran. Hutang shalat disepelekan, kekurangan amal dianggap biasa. Dunia diperlakukan serius, sementara agama dijalani dengan sembrono.

“Jika seseorang mengucapkan lā ilāha illāllāh sementara hatinya penuh penyakit—selalu merasa kurang dalam urusan dunia dan teledor dalam ibadah—maka Allah menyebutnya ia telah berdusta,” ujar Kiai Ali. Dalam kondisi demikian, doa tak lagi mampu membendung murka Allah. Ia diibaratkan senjata yang tumpul: bentuknya masih ada, tetapi daya lindungnya hilang.

Dari sinilah, menurut Kiai Ali Barqul Abid, makna belajar dan mengamalkan thoriqoh menemukan relevansinya. Thoriqoh bukan pelarian dari dunia, melainkan jalan untuk menata hati agar ibadah kembali lurus, niat kembali bersih, dan tauhid benar-benar hidup. Thoriqoh adalah ikhtiar merawat batin agar dzikir tidak sekadar bunyi, tetapi menjadi pagar yang kokoh antara hamba dan murka Tuhannya.

Di tengah dunia yang menuntut hasil cepat dan pengakuan instan, pesan itu terasa menohok: istiqamah bukan soal banyaknya amal, melainkan kejujuran hati. Apakah kita beribadah karena Allah, atau karena makhluk. Apakah kita qanaah atas pemberian-Nya, atau terus merasa kurang. Di sanalah kualitas lā ilāha illāllāh diuji—setiap hari, tanpa henti.


--- Puyut Gayaman


Posting Komentar untuk "Menata Hati di Tengah Godaan Istiqamah"